- Kegagalan pengawasan lalu lintas udara di Inggris menyebabkan pembatalan lebih dari 2.000 penerbangan dan membuat ratusan ribu penumpang terdampar.
- Beberapa bandara utama terkena dampak, dengan lebih dari 290 penerbangan dibatalkan pada hari Rabu.
- CEO NATS meminta maaf atas insiden tersebut tetapi menghadapi seruan pengunduran diri dari para petinggi maskapai.
- Insiden ini memicu pertanyaan tentang ketahanan infrastruktur lalu lintas udara Inggris dan bukan kali pertama terjadi masalah teknis.
Operasi penerbangan di Inggris telah dilanjutkan setelah mengalami kesalahan pengawasan lalu lintas udara yang menyebabkan pembatalan lebih dari 2.000 penerbangan dan membuat ratusan ribu penumpang terdampar di berbagai bandara di seluruh negeri. Bandara-bandara utama di Inggris memulai kembali operasinya pada hari Rabu, 9 September, setelah penutupan selama beberapa jam pada hari sebelumnya. Menurut laporan dari Cirium, sebuah perusahaan data dan analisis penerbangan yang berbasis di London, sekitar 1.750 penerbangan dibatalkan pada hari Selasa, 8 September. Layanan Lalu Lintas Udara Nasional Inggris (NATS) melaporkan bahwa keterlambatan keberangkatan disebabkan oleh "masalah teknis" dalam sistem pemrosesan penerbangan mereka.
Bandara Heathrow, Gatwick, Manchester, dan Birmingham mengalami keterlambatan paling parah. Laporan menunjukkan bahwa pada hari Rabu, lebih dari 290 penerbangan dibatalkan. Pada hari pertama, 30% dari penerbangan keberangkatan dibatalkan, sementara pada hari kedua, persentasenya turun menjadi 5%. CEO NATS, Martin Rolfe, meminta maaf kepada penumpang yang terkena dampak dan menyebut insiden ini sebagai "gangguan IT". Namun, Yvonne Moynihan, Managing Director Wizz Air UK, dan Neal McMahon, Chief Operating Officer Ryanair, menyerukan pengunduran diri Rolfe, dengan alasan masalah teknis yang berulang kali terjadi.
Reaksi Maskapai terhadap Gangguan
Gangguan operasional penerbangan dimulai pada hari Selasa, ketika NATS mengalami masalah teknis yang menyebabkan pembatalan lebih dari 2.000 penerbangan dan membuat ratusan ribu penumpang terdampar. Laporan media menunjukkan bahwa Ryanair adalah salah satu maskapai yang paling terkena dampak, dengan sekitar 150.000 penumpang terkena dampak dan lebih dari 200 penerbangan dibatalkan. Sementara itu, British Airways membatalkan atau mengalihkan sekitar 100 penerbangan, mempengaruhi puluhan ribu penumpang. Rolfe mengungkapkan bahwa organisasi tersebut sedang menyelidiki insiden tersebut dan percaya bahwa masalah ini berbeda dengan penyebab gangguan sebelumnya. Meskipun dia meminta maaf atas gangguan tersebut dan menyatakan bahwa kemungkinan serangan siber telah dikesampingkan, dia tetap dipanggil untuk bertemu dengan Menteri Transportasi Heidi Alexander pada hari Rabu.
Alexander mendesak semua penumpang untuk "terus memeriksa dengan maskapai" untuk memastikan penerbangan mereka berjalan sesuai jadwal. Dia menyatakan di platform media sosial X: "Saya sedang mencari jaminan bahwa pelajaran telah dipetik dan sistem yang mendukung transportasi udara dapat menjalankan tugasnya."
Kontroversi Ketahanan Infrastruktur Lalu Lintas Udara
Namun, gangguan ini kembali memicu pertanyaan tentang ketahanan infrastruktur lalu lintas udara Inggris. Gangguan pada hari Selasa bukanlah kali pertama jaringan lalu lintas udara Inggris mengalami masalah teknis besar dalam beberapa tahun terakhir. Pada bulan Agustus 2023, sebuah kegagalan sistem menyebabkan pembatalan penerbangan yang meluas selama periode perjalanan tersibuk dalam setahun, yang diperkirakan membuat maskapai kehilangan sekitar 135 juta dolar (sekitar 100 juta poundsterling). Masalah teknis lainnya muncul pada bulan Juli 2025, ketika gangguan terkait radar menyebabkan gangguan penerbangan di bandara-bandara utama, termasuk Heathrow.
Dalam wawancara dengan Reuters, CEO Ryanair, Michael O'Leary, menyatakan bahwa gangguan ini adalah pengulangan dari penghentian penerbangan pada tahun 2023 akibat perencanaan penerbangan yang tidak tepat. Dia berkata, "Pecat dia. Dia sudah di sana sejak 2015, tidak berguna." Perusahaan tersebut juga mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa lebih dari 65.000 penumpang terkena dampak gangguan ini. "Berapa kali lagi penumpang harus membayar kegagalan yang berlebihan dari NATS sebelum CEO Martin Rolfe bertanggung jawab dan mengundurkan diri?"
McMahon menunjukkan, "Keluarga yang berlibur, orang-orang yang bepergian untuk bisnis, dan ribuan pengunjung lagi-lagi harus menanggung kegagalan memalukan dari NATS."
Moynihan juga bergabung dengan Ryanair dalam menyerukan pengunduran diri Rolfe. Dia menyatakan, "Saya pikir di industri mana pun, ketika Anda mengalami tiga kegagalan, Anda harus mempertimbangkan untuk keluar tiga kali. Jadi, saya pikir ini pasti sesuatu yang perlu dia pertimbangkan." Dia menambahkan, "Ketiga kalinya dan alasan ketiga sudah tidak lagi cukup." Rolfe menyatakan bahwa dia bertanggung jawab penuh atas insiden ini. Pemerintah memberinya waktu satu minggu untuk menyelidiki insiden tersebut dan melaporkan hasilnya kepada Alexander.
Dampak dan Tanggung Jawab Kegagalan Pengawasan Lalu Lintas Udara
Kegagalan pengawasan lalu lintas udara ini tidak hanya menyebabkan pembatalan penerbangan secara massal, tetapi juga memicu krisis kepercayaan terhadap sistem transportasi udara Inggris. Para petinggi maskapai mengungkapkan ketidakpuasan yang kuat terhadap kinerja NATS dan menyerukan pengunduran diri pejabat terkait, menunjukkan ketidakpuasan terhadap masalah teknis yang terus terjadi. Insiden ini kembali menyoroti kerapuhan industri penerbangan dalam menghadapi gangguan teknis, terutama selama puncak musim liburan, dengan dampak yang sangat besar bagi penumpang. Pemerintah dan lembaga terkait perlu memperkuat ketahanan infrastruktur untuk menghindari terulangnya kejadian serupa.

