- Angkatan Darat AS memilih enam perusahaan mengembangkan kendaraan robot otomatis untuk tugas logistik.
- Hunter WOLF milik BLADE adalah kendaraan darat tanpa awak (UGV) matang yang sudah siap produksi.
- Angkatan Darat akan menilai berbagai metode logistik otonom dan evakuasi korban, belum menentukan kendaraan tunggal.
- Jika prototipe terbukti efektif, kendaraan otonom akan menjadi bagian penting logistik medan perang.
Angkatan Darat AS telah memilih enam perusahaan untuk mengembangkan kendaraan robot siap produksi guna mengotomatisasi salah satu tugas logistik paling berbahaya di medan perang: mengirimkan pasokan dan mengevakuasi korban luka di dekat garis depan. Perusahaan BLADE (dahulu HDT) adalah salah satu dari enam perusahaan terpilih yang berpartisipasi dalam program Infantri Last Tactical Mile (ILTM) Angkatan Darat. Perusahaan tersebut mengajukan kendaraan darat tanpa awak (UGV)-nya, Hunter WOLF, sebuah kendaraan hibrida diesel-elektrik beroda enam yang dirancang untuk mendukung unit ringan dan infanteri. Program ILTM berfokus pada area antara unit logistik dan Garis Depan Pasukan Teman (FLOT), di mana prajurit yang mengantarkan amunisi dan pasokan, atau yang membawa korban luka kembali, terpapar api musuh.
Kematangan Teknologi BLADE
BLADE mendeskripsikan Hunter WOLF sebagai desain yang sudah matang, dan menyebutnya sebagai sistem Tingkat Kematangan Teknologi 9 (TRL 9) yang siap produksi. TRL 9 adalah tingkat tertinggi dalam penilaian kematangan teknologi militer AS, menandakan sistem telah tervalidasi di lingkungan operasional. Perusahaan tersebut menyatakan kendaraan ini mampu mengangkut muatan hingga 2.800 pon (sekitar 1.270 kilogram) secara otonom. Konfigurasi enam rodanya dirancang untuk mengatasi medan sulit, termasuk hutan lebat, kemiringan 60% dan kemiringan samping 40%. Kendaraan ini juga dapat menyuplai daya untuk peralatan lain, dan menerima berbagai muatan efektif sesuai kebutuhan misi, sehingga platform yang sama dapat digunakan untuk pengiriman logistik atau evakuasi korban, tidak terbatas pada satu tugas saja.
Presiden Divisi Robotika BLADE, Tom Van Doren, menyatakan: "Desain, manufaktur, dan validasi lapangan Hunter WOLF sudah sangat matang, siap mendukung prajurit di lingkungan yang menantang." Angkatan Darat memilih enam perusahaan tersebut untuk berkompetisi dalam sistem robot infanteri generasi berikutnya, peserta lain meliputi Maren-Go, Overland AI, Forterra, Hendrick's Motorsports, dan American Rheinmetall.
Evaluasi dan Rencana Masa Depan
Angkatan Darat memilih perusahaan-perusahaan tersebut melalui Perjanjian Transaksi Lain Prototipe. Menurut laporan Defense Blog, diharapkan perusahaan peserta akan menyerahkan prototipe siap produksi pada awal 2027 untuk demonstrasi dan evaluasi operasional dengan unit Angkatan Darat. Hasil evaluasi bertujuan membantu Angkatan Darat menentukan kebutuhan, dan menjadi acuan untuk keputusan produksi potensial sistem pendukung infanteri otonom generasi berikutnya.
Oleh karena itu, program ini belum menentukan satu kendaraan tunggal untuk seluruh Angkatan Darat, melainkan upaya prototipe kompetitif untuk menilai berbagai metode logistik otonom dan evakuasi korban. BLADE masuk ke kompetisi dengan kendaraan yang sudah digunakan dalam latihan dan evaluasi militer. Menurut perusahaan tersebut, Hunter WOLF beroperasi sejak 2017, dan di-upgrade pada 2025. Kendaraan ini telah mengikuti lebih dari 60 latihan lapangan, dan BLADE menyatakan platform ini sudah mendukung Kormarin AS, pasukan Australia, dan Ukraina.
Kendaraan ini baru-baru ini juga dievaluasi oleh Angkatan Darat AS. Pada bulan Mei, BLADE menyerahkan kendaraan Hunter WOLF ke Divisi Gunung ke-10 di Fort Polk, dan di bawah program Ground Optional Autonomous Transport Angkatan Darat, prajurit menerima pelatihan operasi dan pemeliharaan untuk berbagai konfigurasi misi.
Perusahaan tersebut juga melaporkan evaluasi pada 2026 bersama Divisi Gunung ke-10 dan Divisi Angkatan Udara ke-101, serta insiden Divisi Angkatan Udara ke-82 di Fort Polk, Louisiana. Untuk program ILTM, Angkatan Darat akan menilai apakah sistem seperti Hunter WOLF dapat andal menjalankan tugas pengisian ulang dan evakuasi korban di medan sulit dan kondisi kompetitif yang dihadapi unit infanteri. Jika prototipe terbukti mampu mengurangi kebutuhan prajurit menghadapi tugas logistik berbahaya tersebut, kendaraan darat otonom mungkin akan menjadi bagian semakin penting dari upaya Angkatan Darat mengirimkan pasokan dan korban luka di jarak terakhir medan perang.
Prospek Aplikasi Medan Perang Kendaraan Robot Otonom
Program Angkatan Darat AS ini menandai penekanan pada penerapan teknologi otomatisasi di logistik medan perang. Seiring berubahnya lingkungan perang, dukungan logistik tradisional menghadapi tantangan semakin banyak, dan kendaraan robot otonom seperti Hunter WOLF menawarkan solusi potensial. Kendaraan-kendaraan ini tidak hanya mampu mengirimkan pasokan di lingkungan berbahaya, tetapi juga mengurangi risiko prajurit dan meningkatkan efisiensi operasi. Evaluasi masa depan akan membantu menentukan kelayakan teknologi-teknologi ini, lebih mendorong pengembangan otomatisasi militer.

