- Hanwha Aerospace dan Lockheed Martin memperkenalkan varian baru Redback IFV dengan menara 40 mm.
- Kendaraan baru ini dapat menggunakan munisi standar NATO, memberikan fleksibilitas.
- Sistem SkyKeeper yang ditambahkan memberi Redback kemampuan perang anti-drone.
- Konfigurasi baru ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan modernisasi negara-negara NATO.
Hanwha Aerospace dan Lockheed Martin UK memperkenalkan varian baru infantry fighting vehicle (IFV) Redback yang menggabungkan menara buatan Inggris dengan senjata kaliber 40 mm dan teknologi anti-drone. Kedua perusahaan memamerkan konfigurasi ini pada Defence Vehicle Dynamics 2026 yang berlangsung di Millbrook, Inggris, dengan menawarkan Redback kepada negara-negara NATO yang ingin memodernisasi pasukan lapis baja dan pengintaian mereka.
Kendaraan baru ini mempertahankan sasis lintasan (tracked) Redback, namun menggantikan konfigurasi yang dipilih Australia dengan menara berawak dari Lockheed Martin UK. Menara tersebut dipersenjatai senjata CTA International kaliber 40 mm, sehingga konfigurasi armament-nya berbeda dari Redback versi Australia yang menggunakan senjata kaliber 30 mm. Menara ini dikembangkan dan diintegrasikan di fasilitas Lockheed Martin UK di Bedfordshire. Pemilihan senjata kaliber 40 mm juga memungkinkan kendaraan tersebut menggunakan beragam munisi standar NATO. Lee Byeong-gil dari Hanwha menyebut bahwa perusahaan memilih senjata ini karena fleksibilitas jenis munisi yang ditawarkannya.
Sebagai pembanding, Redback IFV milik Angkatan Darat Australia menggunakan senjata Northrop Grumman Mk44S Bushmaster II kaliber 30 mm, ditambah rudal antitank Spike LR2 dan sistem lainnya. Australia telah menandatangani kontrak untuk 129 unit Redback dengan Hanwha Defense Australia di bawah program LAND 400 Phase 3.
Integrasi Teknologi Anti-Drone
Perubahan yang mungkin lebih besar dalam mengubah IFV menjadi platform anti-drone adalah penambahan sistem command and control SkyKeeper dari Lockheed Martin UK. SkyKeeper dirancang sebagai sistem command and control pertempuran untuk pertahanan udara berbasis darat dan sistem counter-UAS (C-UAS). Lockheed Martin menyebutkan bahwa sistem ini dapat menggabungkan informasi dari berbagai sensor dan mengoordinasikan effector kinetik maupun non-kinetik. Sistem ini juga dirancang agar sesuai dengan arsitektur kendaraan generik Inggris. Untuk Redback, SkyKeeper untuk pertama kali diintegrasikan langsung ke dalam arsitektur menara.
Kedua perusahaan mengatakan bahwa hal ini memberikan kendaraan tersebut peran ganda: pertempuran infanteri tradisional dan operasi anti-drone, yang mencerminkan tantangan yang semakin besar dihadapi oleh pasukan lapis baja.
Drone kecil dapat melakukan pengintaian berkelanjutan dan mampu membawa muatan peledak, memaksa unit lapis baja应对 ancaman udara secara bersamaan dengan ancaman darat tradisional. Mengintegrasikan指挥 dan pengendalian anti-drone ke dalam IFV berpotensi memungkinkan kendaraan tersebut berpartisipasi dalam pengawasan udara yang lebih luas, tidak hanya mengandalkan sensornya sendiri. Namun, kedua perusahaan belum secara terbuka mengungkapkan konfigurasi sensor, effector, maupun arsitektur operasional lengkap dari varian Redback baru ini.
Posisi Pasar untuk Konfigurasi Baru
Varian baru ini tidak dirancang untuk menggantikan konfigurasi Redback Australia, melainkan memberikan Hanwha opsi lain yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pelanggan. Perusahaan merencanakan demonstrasi lapangan pada tahun 2027, termasuk di Kanada dan Korea, guna menjangkau calon pelanggan dari kalangan NATO dan sekutunya. Pendekatan ini juga memanfaatkan pengembangan Redback yang sudah ada. Australia memilih kendaraan ini pada tahun 2023, dan rencana 129 unit tersebut akan diproduksi secara lokal di Australia. Dengan demikian, bagi Hanwha dan Lockheed Martin UK, konfigurasi baru ini lebih merupakan pameran tentang cara mengonfigurasi ulang platform lapis baja yang sudah ada untuk menjawab tuntutan medan pertempuran yang terus berubah.
Kombinasi senjata kaliber 40 mm dengan sistem指挥 anti-drone yang terintegrasi menawarkan konfigurasi Redback lain bagi pelanggan NATO, di tengah pasukan lapis baja yang semakin dituntut untuk bertahan dari ancaman darat maupun udara.
Signifikansi Strategis Varian Baru Redback IFV
Dengan perkembangan teknologi drone yang pesat, pasukan lapis baja tradisional menghadapi tantangan baru. Kerja sama antara Hanwha Aerospace dan Lockheed Martin dalam meluncurkan Redback IFV dengan kemampuan anti-drone menunjukkan kepekaan terhadap kebutuhan medan pertempuran masa depan. Desain dengan peran ganda ini tidak hanya meningkatkan fleksibilitas operasional kendaraan, tetapi juga menawarkan opsi baru bagi negara-negara NATO dalam menghadapi ancaman dari udara maupun darat. Di tengah perubahan lingkungan keamanan global, konfigurasi baru ini akan有助于 memperkuat kerja sama dan kemampuan pertahanan di antara sekutu.

