AS dan Sekutunya Bisa Ancam Armada Kapal Induk China dengan Lima Cara

·oleh Henderson·Engineering
AS dan Sekutunya Bisa Ancam Armada Kapal Induk China dengan Lima Cara
Poin Utama
  • Armada kapal induk China mengancam AS, terutama di kawasan Pasifik Barat.
  • AS dan sekutu bisa memusatkan kekuatan untuk menghadapi kapal induk China demi menciptakan tekanan berkelanjutan.
  • Unmanned surface vessels dapat menambah tekanan terhadap pelabuhan dan militer China.
  • Laporan tersebut merekomendasikan AS menyesuaikan struktur armadanya untuk menjawab ekspansi China.

China selama beberapa tahun terakhir membangun kekuatan yang dirancang untuk mengancam kapal induk Amerika Serikat, terutama di kawasan Pasifik Barat. Menurut analisis terbaru dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), AS dan sekutunya bisa menempuh strategi serupa untuk menghadapi armada kapal induk China yang terus berkembang. Analisis berjudul "Flipping the Script" tersebut dirilis oleh CSIS pada bulan Agustus. Laporan ini merekomendasikan agar kapal induk China dijadikan fokus dari jaringan terdesentralisasi yang terdiri atas kapal selam, rudal, pesawat, sistem nirawak, dan aset intelijen AS serta sekutunya.

China telah mengembangkan kombinasi yang meliputi kapal selam, rudal balistik dan jelajah, pesawat, sensor, serta sistem lain untuk mengancam kelompok kapal pemukul AS di sekitar wilayah China. CSIS berpandangan bahwa jika AS dan sekutu Pasifiknya memusatkan kapabilitas mereka pada kapal induk China, maka armada kapal induk China akan menghadapi berbagai tantangan serupa. Laporan tersebut mengidentifikasi lima bidang utama untuk mencapai tujuan tersebut.

Ancaman dari Bawah Air

Bidang pertama adalah bawah air. Kapal selam bertenaga nuklir AS dapat digabungkan dengan kapal selam konvensional dari Australia, Jepang, dan Korea Selatan untuk membentuk ancaman berkelanjutan terhadap kelompok kapal induk China, sebagaimana dijelaskan CSIS. Rudal anti-kapal berbasis daratan memberikan lapisan pertahanan tambahan. Dari Jepang hingga Filipina, senjata-senjata ini dapat mengancam kapal-kapal China yang mendekati jalur laut strategis, sementara sistem intelijen, surveilans, dan pengintaian milik sekutu menyediakan data penargetan. Selain itu, strategi ini juga akan memanfaatkan rudal anti-kapal yang diluncurkan dari udara dengan dukungan surveilans satelit, serta operasi elektronik dan siber yang dirancang untuk mengganggu jaringan komando serta komunikasi China.

Peran Sistem Nirawak

Unmanned surface vessels dapat menambah lapisan tekanan lain di sekitar pelabuhan dan fasilitas militer China. Integrasi sistem-sistem ini ditujukan untuk membuat pengoperasian kapal induk besar di sekitar Taiwan, Laut China Selatan, atau di luar rantai kepulauan pertama China semakin sulit dan mahal.

Penyesuaian Armada AS

Proposal desentralisasi AL AS juga menuntut perubahan pada struktur organisasinya. CSIS berpendapat bahwa AS membutuhkan lebih banyak sistem bawah air nirawak, basis tambahan untuk drone angkatan laut milik sekutu, serta stok persenjataan yang lebih besar, misalnya torpedo. Laporan tersebut juga merekomendasikan pembentukan armada dengan 300 kapal berawak dan 300 kapal nirawak, sebuah penyesuaian dari rencana saat ini sekitar 350 kapal berawak serta 150 sistem permukaan dan bawah air nirawak. Selain itu, laporan tersebut menyerukan agar US Army dan US Marine Corps menyediakan unit rudal anti-kapal berbasis daratan, serta mendorong produksi bersama senjata presisi di antara sekutu.

Gagasan mendasarnya tidak hanya soal kapal induk. Dengan mendistribusikan persenjataan ke kapal selam, pesawat, pasukan darat, sistem nirawak, dan pangkalan sekutu, AS dapat menciptakan ancaman berlapis yang harus dipertimbangkan China secara bersamaan.

Proposal ini berlatar belakang kekuatan kapal induk China yang masih terus berkembang. Saat ini, China memiliki tiga kapal induk, dan menurut penilaian Pentagon tahun 2025 yang dikutip Defense News, Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) di proyeksikan mampu membangun enam kapal induk tambahan pada 2035. Argumen CSIS adalah bahwa armada kapal induk China yang terus bertambah tidak seharusnya hanya dipandang sebagai ancaman terhadap kekuatan laut AS. Kapal-kapal induk tersebut juga bisa menjadi target bernilai tinggi, terutama karena harganya mahal dan sulit diganti. Oleh karena itu, laporan tersebut membingkai ulang persoalan kapal induk. Washington dan sekutunya dapat berupaya menciptakan lingkungan ancaman serupa di sekitar armada China sendiri, alih-alih hanya berfokus melindungi kapal induk AS dari serangan sistem anti-akses China.

Cara AS Menyikapi Ekspansi Kapal Induk China

Ekspansi armada kapal induk China menjadi tantangan berat bagi AS dan sekutunya, terutama di kawasan Pasifik Barat. Laporan CSIS menekankan bahwa AS dan sekutu dapat merespons ancaman tersebut melalui berbagai cara, termasuk operasi bawah air, pemanfaatan sistem nirawak, serta penyesuaian struktur armada. Hal ini bukan sekadar penangkalan terhadap kapal induk China, melainkan penciptaan lingkungan ancaman berlapis yang memaksa China mempertimbangkan pertahanan dari banyak sisi. Keberhasilan strategi ini akan bergantung pada kerja sama serta alokasi sumber daya antara AS dan sekutunya, dan memiliki makna penting bagi pemeliharaan stabilitas kawasan.

H
Tentang penulis
Henderson