- Angkatan Udara AS memberikan kontrak senilai USD 694 juta kepada Lockheed Martin untuk memproduksi rudal AGM-183A.
- AGM-183A akan menyerang target dari luar wilayah udara yang sangat terjaga, dengan kecepatan lebih dari lima kali kecepatan suara.
- Angkatan Udara menetapkan jangkauan rudal ini sekitar 1.000 mil, memungkinkan peluncuran dari jarak jauh.
- Desain boost-glide ARRW dirancang untuk melawan sistem pertahanan udara yang kompleks.
Angkatan Udara Amerika Serikat telah memberikan kontrak senilai USD 694 juta kepada Lockheed Martin untuk memproduksi dan mendistribusikan AGM-183A Air-Launched Rapid Response Weapon (ARRW), yang menandai transisi program rudal hipersonik dari tahap desain prototipe dan pengujian penerbangan ke tahap produksi. Pentagon mengumumkan kontrak tersebut pada 29 September dan secara resmi diumumkan pada 26 Oktober. Keputusan ini merupakan langkah penting bagi militer AS untuk memperoleh senjata serangan jarak jauh yang dirancang untuk terbang dengan kecepatan lebih dari lima kali kecepatan suara dan menyerang target dari luar wilayah udara yang sangat terjaga.
Menhan Troy Meinkke dalam pernyataannya mengatakan, "Ini adalah titik balik dalam peta jalan senjata canggih kami." Ia mencatat bahwa program ini akan memberikan komandan pilihan serangan dengan kecepatan tinggi, yang dirancang untuk menembus pertahanan anti-akses dan area penolakan yang maju.
Fitur Desain Rudal AGM-183A
AGM-183A menggunakan arsitektur boost-glide, bukan desain rudal jelajah tradisional. Roket pendorong berbahan bakar padat akan mempercepat senjata hingga kecepatan hipersonik, lebih dari Mach 5, lalu melepaskan kendaraan glider menuju target. Angkatan Udara menetapkan jangkauan rudal ini sekitar 1.000 mil (sekitar 1.600 kilometer), memungkinkan pesawat untuk meluncurkan dari jarak yang cukup jauh tanpa harus melintasi wilayah musuh secara langsung. Kecepatan dan karakteristik glidernya dirancang untuk membantunya mencapai target bernilai tinggi dan sensitif dalam waktu yang kritis, yang biasanya dilindungi oleh jaringan pertahanan udara yang kompleks.
Berbeda dengan senjata yang bergantung pada dampak ledakan, Angkatan Udara menggambarkan ARRW sebagai senjata yang memanfaatkan energi kinetik dari dampak kecepatan tinggi untuk menghancurkan target. Sistem ini dirancang untuk memberikan kemampuan serangan jarak jauh konvensional, meskipun kinerja operasional spesifik dari senjata yang diproduksi belum dipublikasikan secara rinci.
Angkatan Udara terutama menggunakan B-52H Stratofortress untuk menguji ARRW, pesawat yang telah digunakan untuk membawa senjata jarak jauh. Para pejabat juga mengidentifikasi B-1B Lancer sebagai pesawat lain untuk pengujian dan integrasi program. Pesawat-pesawat ini dapat meluncurkan rudal tanpa harus memasuki area yang paling terjaga di sekitar target. Namun, Angkatan Udara belum mengungkapkan berapa banyak rudal yang dicakup oleh kontrak baru ini atau kapan pengiriman akan dimulai, dan mencatat bahwa informasi tersebut dirahasiakan demi keamanan operasional. Keputusan produksi ini juga diambil setelah sejarah pengembangan yang penuh gejolak. Lockheed Martin memulai pekerjaan pada ARRW pada tahun 2018 dan mulai melakukan pengujian muatan dari B-52 pada tahun berikutnya.
Kontrak Menandai Komitmen Ulang
Program ini mengalami beberapa kemunduran selama pengujian penerbangan awal, dan pada tahun 2023, Angkatan Udara menyatakan akan mengalihkan perhatian ke upaya hipersonik lainnya, alih-alih melanjutkan pengadaan ARRW. Namun, angkatan bersenjata kemudian mengubah arah. Dana pengadaan muncul dalam anggaran tahun fiskal 2026, dan kontrak baru ini kini secara resmi menetapkan langkah menuju transisi ke produksi.
Kontrak senilai USD 694 juta ini menandai komitmen ulang untuk mendistribusikan rudal ini, tetapi tidak menetapkan kapan ARRW akan siap digunakan dalam operasi atau bagaimana Angkatan Udara akan dengan cepat membangun jadwal persediaannya. Detail tersebut masih belum diungkapkan. Angkatan bersenjata sedang mengejar senjata hipersonik untuk menyerang target penting dengan cepat, sambil melawan sistem pertahanan udara yang semakin kompleks. Desain boost-glide dari ARRW adalah salah satu cara untuk menghadapi tantangan ini, menggabungkan kecepatan tinggi dengan peluncuran jarak jauh dari pesawat. Saat ini, kontrak ini mendorong program ke tahap berikutnya, mengubah desain senjata yang telah teruji menjadi sistem produksi yang akhirnya dapat dikerahkan oleh Angkatan Udara.
Seiring dengan kemajuan pengiriman dan integrasi operasional, skala dan waktu transformasi ini akan menjadi lebih jelas.
Signifikansi Strategis Senjata Hipersonik
Kontrak produksi untuk rudal AGM-183A menandai kemajuan signifikan bagi Amerika Serikat di bidang senjata hipersonik. Dengan meningkatnya persaingan militer global, senjata yang mampu menyerang target bernilai tinggi dengan cepat ini akan memberikan kemampuan operasi yang lebih unggul bagi militer AS. Fitur desain ARRW memungkinkannya untuk menjalankan misi tanpa memasuki jaringan pertahanan udara musuh, yang sangat penting dalam lingkungan medan perang yang kompleks saat ini. Meskipun kinerja operasional spesifik belum dipublikasikan, pengembangan dan penerapannya akan mempengaruhi strategi militer dan integrasi sistem senjata di masa depan.

