Laporan IAEA Ungkap Reaktor Nuklir Rahasia Suriah Mungkin Dipakai untuk Produksi Bahan Senjata Nuklir

·oleh Henderson
Laporan IAEA Ungkap Reaktor Nuklir Rahasia Suriah Mungkin Dipakai untuk Produksi Bahan Senjata Nuklir
Poin Penting
  • IAEA menilai reaktor nuklir Suriah mungkin memproduksi bahan senjata nuklir.
  • Desain reaktor menunjukkan efisiensi tinggi dalam produksi bahan senjata nuklir.
  • IAEA mengkonfirmasi keberadaan batang bahan bakar uranium alam di lokasi baru.
  • Pengangkutan bahan tersebut memerlukan langkah keamanan ketat untuk mencegah pencurian.

Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, menyatakan bahwa reaktor nuklir yang hampir lengkap dan dibangun secara rahasia oleh mantan pemimpin Suriah Bashar al-Assad mungkin telah memproduksi bahan fisi yang dapat digunakan untuk senjata nuklir. Penilaian ini diperoleh setelah IAEA melakukan inspeksi di dua lokasi di Suriah bulan lalu, termasuk di Deir ez-Zor dan lokasi lain yang pertama kali diungkapkan oleh otoritas Suriah. Inspeksi ini dilakukan setelah Assad dilengserkan pada Desember 2024, dan pemerintah baru setuju memberikan akses kepada IAEA ke fasilitas nuklir yang diduga bekas.

Inspeksi IAEA terhadap Fasilitas Nuklir Suriah

Menurut Grossi, desain dan karakteristik teknis reaktor tersebut menunjukkan bahwa reaktor itu mungkin telah digunakan untuk memproduksi bahan yang cocok untuk senjata nuklir. Ia menyatakan, "Berdasarkan konfigurasi dan karakteristik teknis jenis reaktor ini, ini adalah reaktor yang sangat efisien dalam memproduksi bahan fisi yang dapat digunakan untuk pembuatan senjata nuklir." Ia menambahkan bahwa pembangunan reaktor tersebut merupakan "langkah penting." Grossi juga menyatakan, "Jelas, pemerintah sebelumnya melakukan serangkaian aktivitas rahasia. Mereka tidak ingin dunia mengetahui apa yang mereka lakukan." Hal ini ia sampaikan kepada wartawan setelah menghadiri pertemuan Dewan Gubernur IAEA triwulanan di Wina.

Dalam kunjungan pada bulan Agustus, inspektur IAEA mengkonfirmasi bahwa "infrastruktur pendinginan yang kini terungkap konsisten dengan reaktor nuklir." Israel pada tahun 2018 mengakui telah melakukan serangan udara di lokasi tersebut pada tahun 2007. Pada tahun 2008, pejabat Amerika menuduh Suriah mencoba membangun reaktor nuklir rahasia dan mengakui bahwa Israel telah menghancurkan fasilitas tersebut.

Otoritas Suriah pada tanggal 17 Juli memberi tahu IAEA tentang lokasi kedua dan mengundang badan tersebut untuk memeriksa dan mengkonfirmasi keberadaan bahan nuklir apa pun yang mungkin ada. Menurut laporan yang dikeluarkan IAEA kepada negara-negara anggota, lokasi tersebut mengandung "batang bahan bakar uranium alam dalam bentuk logam berlapis." Inspektur memverifikasi bahan tersebut dan mengkonfirmasi bahwa "sekitar 73 ton (80 ton AS) uranium alam dalam bentuk logam." Grossi menyatakan bahwa inspektur harus "membongkar dinding" dan melewati "lorong yang sangat sulit dan sempit" untuk mencapai bahan yang tersembunyi, dengan menyebutkan bahwa lokasi tersebut berserakan dengan banyak kotak.

Pengawasan Keamanan Bahan Uranium

Menurut Grossi, bahan uranium tersebut saat ini berada di bawah pengawasan IAEA, dan inspektur telah memasang kamera di lokasi tersebut. Ia menyatakan, "Pentingnya adalah bahwa bahan-bahan ini sekarang berada di bawah jaminan IAEA." Menurut Grossi, apakah uranium tersebut tetap berada di Suriah atau dipindahkan akan ditentukan oleh pemerintah Suriah. Logan Mintz, Direktur Keamanan Bahan Nuklir di Nuclear Threat Initiative, menyatakan bahwa uranium alam dalam bentuk logam tidak langsung dapat digunakan untuk senjata nuklir, tetapi dapat "dipindahkan ke program senjata rahasia untuk diproses lebih lanjut menjadi plutonium untuk membuat senjata nuklir."

Mintz mengungkapkan bahwa pengangkutan bahan apa pun akan memerlukan "langkah-langkah keamanan yang kuat untuk mencegah pencurian atau sabotase." Perkembangan ini merupakan hasil terbaru dari pemeriksaan IAEA terhadap aktivitas nuklir masa lalu Suriah, dan badan tersebut terus memverifikasi fasilitas nuklir bekas di negara tersebut.

Ancaman Potensial dan Tantangan Pengawasan Bahan Nuklir Suriah

Desain reaktor nuklir Suriah menunjukkan kemungkinan penggunaannya untuk memproduksi bahan senjata nuklir, yang menimbulkan kekhawatiran tinggi di komunitas internasional. Hasil inspeksi IAEA mengungkapkan bahan uranium di lokasi tersebut dan menekankan pentingnya pengawasan keamanan bahan nuklir. Meskipun uranium alam dalam bentuk logam tidak langsung digunakan untuk senjata nuklir, potensi konversinya tidak boleh diabaikan. Dengan perubahan situasi politik di Suriah, peran pengawasan IAEA menjadi lebih penting, memastikan bahwa bahan-bahan ini tidak dialihkan ke program senjata rahasia dan mencegah risiko proliferasi nuklir yang potensial.

H
Tentang penulis
Henderson