- HII tengah meneliti sistem airdrop otonom dan pemandu presisi untuk mendukung kebutuhan operasi militer AS.
- Sistem JPADS milik Angkatan Darat mampu melakukan airdrop presisi otonom di lingkungan yang sulit.
- Riset HII akan mencakup teknologi airdrop yang lebih luas, termasuk keamanan siber dan ketahanan.
- Sistem airdrop presisi otonom sangat penting untuk menyuplai logistik ke pasukan yang tersebar.
HII tengah menelusuri cara baru untuk mengirimkan logistik dan personel ke unit Angkatan Darat AS dari udara, termasuk sistem otonom dan pemandu presisi yang dapat dioperasikan dari pesawat berawak maupun nirawak. Divisi teknologi misi perusahaan tersebut menerima kontrak misi berdurasi lima tahun untuk mendorong pengembangan teknologi airdrop kargo dan personel, serta teknologi pendukung operasi. Program ini akan berfokus pada peningkatan keandalan, keselamatan, dan interoperabilitas, sekaligus memperkuat kemampuan sensor, otonomi, dan perlindungan keamanan siber. HII mengumumkan penghargaan tersebut pada 15 September.
Perkembangan Teknologi Airdrop Otonom
Airdrop bertransformasi menjadi sistem logistik yang semakin cerdas. Angkatan Darat telah menggunakan teknologi airdrop presisi otonom, namun lingkungan operasi yang makin berat mendorong pengembangan lebih lanjut. Misalnya, Joint Precision Airdrop System (JPADS)-nya menggunakan unit navigasi otonom untuk memandu parasut ke titik pendaratan yang telah ditentukan. Dalam demonstrasi di Joint Base Lewis-McChord pada Februari 2026, Angkatan Darat menggambarkan JPADS sebagai sistem dengan pemanduan mandiri berbasis GPS dan visual yang mampu mendarat di target dalam jarak 100 meter. Angkatan Darat juga tengah mengembangkan konfigurasi JPADS baru secara terpisah, yang dapat beroperasi saat GPS tidak tersedia atau mengalami gangguan.
Dokumen anggaran tahun 2026 memaparkan pengerjaan terhadap JPADS V4 dan versi jarak jauh, termasuk rencana teknologi anti-failure GPS, serta rencana peningkatan jangkauan peluncuran dari sekitar 15 mil menjadi ratusan mil.
Kontrak misi baru HII tidak secara spesifik menyebut JPADS. Sebaliknya, kontrak tersebut mencakup riset yang lebih luas atas sistem airdrop kargo dan personel, termasuk teknologi pemandu presisi dan pelepasan konvensional.
Betapa pentingnya suplai otonom sudah jelas terlihat. Pasukan yang beroperasi jauh dari pangkalan tetap tetap membutuhkan makanan, amunisi, perbekalan medis, dan peralatan lainnya, sekalipun jalur darat rusak atau rute suplai reguler menjadi terlalu berbahaya. Airdrop dapat mengatasi masalah tersebut dengan mengantar logistik langsung dari pesawat. Namun, ketika pesawat tidak dapat terbang dengan aman di atas tujuan atau pasukan tersebar di lokasi-lokasi kecil yang tercerai-berai, presisi menjadi semakin krusial. Sistem otonom jarak jauh memungkinkan pesawat melepaskan kargo dari jauh dari zona pendaratan yang ditentukan, sementara navigasi onboard mengarahkannya ke tujuan. Sebagai contoh, program JPADS jarak jauh Angkatan Darat tengah mengejar sistem yang mampu menjatuhkan setidaknya 700 pon dalam jarak 250 mil laut.
Hal tersebut memunculkan serangkaian tantangan teknis tersendiri. Sistem harus mampu memperkirakan posisinya, memperhitungkan angin serta kondisi lingkungan lainnya, mengendalikan parasut atau sayap parasut, dan secara andal mencapai zona pendaratan yang telah ditentukan. Apabila navigasi satelit terganggu, sensor alternatif serta metode navigasi lain menjadi sangat penting. Angkatan Darat sudah menguji konsep-konsep semacam itu.
Meningkatkan Ketahanan Sistem Airdrop
Dalam latihan African Lion 26 pada bulan April, pasukan AS dan Maroko melakukan pelatihan JPADS yang berfokus pada pengiriman logistik di lingkungan yang berat. Riset HII akan menjangkau area di luar sekadar navigasi. Perusahaan tersebut menyampaikan akan mengkaji bagaimana perangkat airdrop dapat bekerja sama lintas berbagai pesawat dan sistem, sekaligus meningkatkan ketahanan terhadap ancaman lingkungan dan operasional. Masuknya aspek keamanan siber juga mencerminkan kandungan perangkat lunak yang makin besar dalam sistem logistik modern. seiring makin banyak fitur yang menjadi otomatis dan terhubung, pengamanan terhadap sistem yang menangani navigasi, sensor, dan koordinasi menjadi bagian dari upaya agar logistik benar-benar sampai ke pasukan yang membutuhkan.
Kontrak misi tersebut diberikan melalui kontrak multi-penghargaan yang dikelola oleh Defense Technical Information Center kepada Information Analysis Center, untuk Soldier Center dari Army Combat Capabilities Development Command. HII menyampaikan bahwa saat ini terdapat hampir 60 kontrak misi aktif di bawah program tersebut. Bagi tentara yang semakin siap mempertahankan pasukan tersebar di lingkungan tempat logistik tradisional rentan, menjadikan sistem airdrop lebih presisi, otonom, dan tahan gangguan dapat menjadi elemen penting dalam memastikan pasukan tetap terlengkapi.
Pentingnya Sistem Airdrop Otonom bagi Peperangan Modern
Seiring perubahan lingkungan peperangan, rantai pasok tradisional dapat menghadapi tantangan, sehingga pengembangan sistem airdrop otonom menjadi semakin penting. Sistem-sistem tersebut tidak hanya mampu mengirimkan logistik di lingkungan musuh, tetapi juga meningkatkan kelincahan serta daya tahan pasukan. Khususnya ketika rute suplai reguler terancam, teknologi airdrop presisi memastikan prajurit mendapatkan makanan dan amunisi yang diperlukan. Riset HII mencakup berbagai aspek teknologi, termasuk navigasi dan keamanan siber, yang akan lebih jauh memperkuat kapabilitas operasional serta memastikan logistik terdistribusi secara akurat.

